Ki ageng Pengging, pemberontak?
July 28th, 2007 | Filed under Indonesian entries.
Ki Ageng Pengging adalah murid dari Syech Siti Jenar , nama aslinya Kebo Kenanga yang tinggal di daerah Pengging, Banyudono, Boyolali , Jawa Tengah .
Dia adalah cicit raja Majapahit terakhir, Brawijaya V, lewat Pangeran Handayaningrat.
Ki Ageng Pengging juga memiliki seorang putra yang dirahasiakan demi keamanannya, yang kelak dikenal dengan sebutan Joko Tingkir atau Mas Karebet.
Mula-mula Patih Wanasalam dari Demak sudah pernah mengingatkan sikap Ki Ageng Pengging yang tidak mau menghadap ke Demak.
Sikap itu dapat dianggap sebagai pembangkangan atau pemberontakan.
Atas saran Patih Wanasalam, Ki Ageng Pengging diberi waktu tiga tahun untuk merenungkan sikapnya yang salah itu.
Setelah tiga tahun ternyata Ki Ageng Pengging masih belum mau menghadap ke Demak. Raden Patah kemudian mengutus Sunan Kudus untuk datang ke Pengging atau Pajang.
Persoalan Ki Ageng Pengging ini cukup rumit. Dia sehari-hari hanya dikenal sebagai seorang petani biasa, seorang petani yang juga merangkap guru agama berfahamkan Manunggaling Kawula Gusti karena dia adalah murid syaikh Siti Jenar.
Sunan Kudus merasa tidak pantas membawa sejumlah pasukan kerajaan ke Pengging. Maka dia mengajak tujuh orang muridnya yang pilihan.
Mereka hanya mengenakan pakaian biasa, padahal kemampuannya mereka lebih hebat dari sepuluh prajurit biasa.
Walaupun Ki Ageng Pengging tidak mempunyai bala tentara yang kuat tapi dia mempunyai kekuatan tersembunyi, di pengging banyak bekas senopati, perwira dan prajurit kerajaan Pengging yang sekarang telah menjadi petani semua.
Jelasnya para petani itu sewaktu-waktu dapat mempergunakan keahlian mereka selaku prajurit kerajaan bila sewaktu-waktu Ki Ageng Pengging diganggu orang.
Sepuluh hari sebelum Sunan Kudus datang ke Pengging.
Saudara Ki Ageng Pengging yang bernama Ki Ageng Tingkir meninggal dunia. Jadi Ki Ageng Pengging masih dalam suasana duka cita dan lebih banyak mengurung diri di dalam kamarnya.
Ki Ageng Tingkir adalah saudara seperguruan Ki Ageng Pengging sewaktu berguru kepada syaikh Siti Jenar. Ki Ageng Pengging merasa sangat kehilangan ditinggal orang yang sefaham dengan dirinya.
Perjalanan Sunan Kudus dan murid-muridnya, sampai di utara Kali Cemara, karena kemalaman mereka menginap di dalam hutan dengan membuat kemah.
Malam harinya Sunan Kudus memerintahkan muridnya untuk membunyikan Bende Kyai Sima yang dibawa dari Demak.
Bende itu adalah barang pusaka peninggalan mertua Sunan Kudus. Ketika Bende dipukul bunyinya mengaum seperti singa.
Suara auman itu sampai terdengar ke desa-desa sekitarnya sehingga para penduduk desa merasa ketakutan.
Esok harinya para penduduk desa masuk ke dalam hutan untuk membunuh harimau atau singa yang semalam mengganggu tidur mereka. Tapi mereka tidak menemukan singa yang dicarinya.
Mereka hanya bertemu Sunan Kudus beserta muridnya.
”Apakah anda tidak mendengar suara harimau yg mengaum semalam ?” tanya tetua desa.
“Tidak , Andai kami mendengar harimau tentu kami tidak berani bermalam di sini..”jawab Sunan Kudus.
“Sungguh mengherankan, kami tidak tidur semalaman karena kuatir harimau itu datang ke desa kami,” kata tetua desa.”
“Kalau begitu namakan saja desamu ini Desa Sima (harimau) karena kau mendengar suara harimau padahal tidak ada harimau ,” begitu saran Sunan Kudus.
Penduduk desa menurut dan Sunan Kudus pun meneruskan perjalanannya ke Pengging. Sampailah mereka di sebuah sungai yang airnya keruh.
Murid Sunan Kudus yang sudah kehausan bermaksud meminum air sungai itu. Tapi Sunan Kudus melarangnya.
“Jangan minum air di sini, air sungai ini terlalu keruh (butek),” kata Sunan Kudus.
Hingga sekarang sungai itu dinamakan Sungai Butek atau Kali Butek.
Perjalanan dilanjutkan, tidak beberapa lama tibalah mereka di Desa Pengging. Murid-murid Sunan Kudus berhenti di tepi desa, sedang Sunan Kudus berjalan seorang diri menuju rumah Ki Ageng Pengging.
Sampai di pintu rumah dia disambut oleh pelayan wanita.
“Siapakah anda ini ?” tanya pelayan.
“Saya utusan Tuhan, datang dari Kudus hendak bertemu Ki Ageng Pengging.”
“Ki Ageng tidak dapat menemui siapapun,” kata pelayan itu.
“Kalau memang Ki Ageng Pengging itu sudah masuk Islam, pasti dia tidak menolak tamu yang datang, justru dia akan menghormati setiap tamu yang datang. Katakan hal ini kepadanya.”
Pelayan itu masuk dan mengatakan apa yang diucapkan Sunan Kudus.
Ki Ageng Pengging menyuruh pelayan itu menyilakan Sunan Kudus masuk ke ruang tamu.
Ki Ageng menyuruh istrinya membuat jamuan. Setelah saling memberi salam dan bertegur sapa, Sunan Kudus menyampaikan maksud kedatangannya, yaitu menyampaikan pesan Sultan Demak.
“Wahai Ki Ageng, saya diutus Sultan Demak untuk menanyakan mana yang kau pilih: di luar atau di dalam ? diatas atau dibawah ?”
Ucapan Sunan Kudus itu adalah bahasa kiasan, maksudnya Ki Ageng Pengging disuruh menyatakan ketegasan sikapnya, dia berada di wilayah kekuasaan Demak atau keluar dari kekuasaan Demak..
Ki Ageng Pengging disuruh memilih dia lebih suka menjadi Raja atau menjadi Rakyat..
“Sangat membingungkan kalau saya disuruh memilih,” kata Ki Ageng Pengging. “Karena luar dalam, atas bawah adalah miliku. Saya terpaksa memilih semuanya.”
“Itu serakah namanya,” sahut Sunan Kudus.
“Terserah,” kata Ki Ageng Pengging. “Bila kau pikir aku ini Allah, memang aku ini Allah. Bila kau anggap aku ini santri, memang aku santri. Bila kau anggap aku ini raja aku ini memang keturunan raja. Bila kau anggap aku ini rakyat aku memang rakyat jelata, so what..?
“Kau dan aku dapat mati selama hidup dan hidup selama mati..”
“Buktikanlah, aku ingin melihat,” sahut Sunan Kudus.
Dalam perdebatan itu tak ada yang mau mengalah.
Akhirnya Ki Ageng Pengging harus menerima hukuman dari Sultan Demak dan juga keputusan para wali, yaitu berusaha menghilangkan ajaran Siti Jenar yang sesat.
Ki Ageng Pengging ditusuk dengan keris kecil pada sikunya. Tak ada darah mengalir tapi Ki Ageng Pengging menemui ajalnya dalam keadaan duduk bersila..
Ketika istri Ki Ageng Pengging datang menghidangkan jamuan dia terkejut mendapati suaminya sudah tidak bernafas lagi. Sementara Sunan Kudus sudah mengajak murid-muridnya pulang ke Demak.
Nyai Ageng Pengging menjerit sejadi-jadinya sehingga seluruh Pengging menjadi gempar. Para penduduk bekas prajurit dan senopati segera mengejar Sunan Kudus dan murid-muridnya.
Mengetahui dirinya sedang dikejar ratusan orang, Sunan Kudus malah berhenti di bawah pohon sembari menunggu kedatangan para penduduk Pengging.
Setelah dekat Sunan Kudus membunyikan Bende Kyai Sima, lalu terjadilah keajaiban.
Tiba-tiba muncul ribuan prajurit Demak yang berjalan dari arah barat dan utara. Tapi penduduk Pengging tidak merasa takut, terus dikejarnya Sunan Kudus dan para muridnya.
Sunan Kudus berkata, “Sudahlah jangan turut campur. Kalian rakyat jelata tidak mempunyai persoalan.”
“Junjungan kalian memang sengaja memberontak terhadap Demak Bintoro, itulah hukumannya..”
Lalu Sunan Kudus memerintahkan ribuan prajurit yang berasal dari Bende Kyai Sima bergerak ke timur, tidak lama para prajurit Demak yg berjumlah ribuan itu tiba-tiba lenyap begitu saja..
Penduduk Pengging merasa bingung, sebagaian besar malah hilang akalnya. Sunan Kudus merasa kasihan, maka dikembalikan keadaan mereka seperti semula.
Setelah sadar para penduduk Pengging itu tidak berani lagi mengejar Sunan Kudus. Mereka kembali ke Pengging…
Related Posts
Tags: Catatan pribadi


kirain tadi rumahnya itu kebanjiran
hehehe…
Soal wali songo, ceritanya mbulet. Ada unsur politiknya juga. Dulu pernah dengerin pengajian yg membahas masalah ini. Tapi karena gak paham sejarahnya agak susah membayangkannya
cuma numpang lewat neeh
Babad tanah jawa kental nuansa politis, beda faham taruhannya maut.
Di balik itu, cerita seputar pergolakan Demak Bintoro sampai masa Joko Tingkir berkuasa dan seterusnya >> Mataram >> hingga pemecahan menjadi Kasunanan, Kasultanan dan Mangkunegaran, sangat menarik untuk direnungkan …
kethoprak an…ki
mayan nguri2 budoyo jowo
Agam
Memang kalau ngomongin walisongo baunya mistis banget..
Trus versinya juga macem-macem, wajar kalau bikin bingung..
Aribowo
Boleh..
Cak Moki
Di Solo konflik seperti cerita dulu itu masih ada, tapi taruhannya sudah nggak maut lagi..
Lihat saja sekarang ada raja kembar di Solo..
Konflik kekuasaan seperti itu saya rasa nggak akan bisa berhenti. Selalu ada orang yg haus akan kekuasaan..
Reksa
Iyo, Ceritane Babad Tanah Jowo,,
Baca Kebo Kenongo, Ki Ageng Pengging Sepuh, jadi inget bacaan favoritku, Nogososro Sabukinten. Hebat ya SH Mintardja, setting ceritanya bisa match dengan timeline sejarah. Termasuk penggambaran lokasinya.
mas pengikut syekh siti jenar?
Nude
Waah, penggemar SH mintardja ya? sama dong? tos dulu! *tos*
firman firdaus
Keliatannya gimana?
emangnya kamu tau sejarah dari mana?orang tua kamu atau guru kamu.heeeeeeeeeeeeeheeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeehaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
cerita wali songo itu bisa jadi tuntunar siapa salah seleh temen tinemu, becik ketitk olo…rupamu heee
ceritanya kurang komplit tuuh
isi perdebatannya kok ga diekspose
Ki Ageng Pengging salah satu tokoh idola saya, dalam sebagian besar pemikirannya saya acc banggeeeet. manusia hidup bukan hanya sekali, dan mati itu hanya masa peralihan ( transformasi ). btw, makam asli Ki Ageng pengging dimana yach? Saya juga percaya bahwa manusia memiliki Tuhan dalam dirinya! Tuhan saya Allah SWT, sang Maha Memiliki dan sang Maha Segalanya. Sekarang ini banyak yang mengaku Allah adalah tuhannya, tapi sebenarnya dia menuhankan akal, pikiran, tekhnologi, dsb. Ketika seseorang berkeyakinan bahwa segala sesuatu itu rasional, secara tidak sadar dia telah mengganti Tuhannya dengan akalnya. Sungguh, betapa manusia sekarang tidak menyadari itu!
gimana menurut anda???
Alam semesta terbagi dia sebagai dunia makrokosmos dan mikrokosmos. Dua hal tersebut sama tetapi beda ukuran, apa yang ada di makro ada juga dimikro begitu juga sebaliknya. Surga dan Neraka hanyalah tempat persinggahan bagi roh/jiwa/atman yang telah meninggalkan bajunya/jasad. Dua tempat tersebut akan kita nikmati sesuai dengan amal yang kita perbuat disaat kita hidup. Tujuan hakiki kehidupan bukanlah surga dan neraka karena dua tempat tersebut tidaklah abadi. Tujuan kehidupan adala keabadian yaitu manunggaling kawula kalawan gusti atau moksa.
Gue nich asli orang pengging, tapi tempat kerajaanya sampai sekarang saya juga belum menemukan di mana, banyak orang bilang ada kerajaan pengging tapi dimana? yang ada hanya makam kebo kenongo, makam yosodipuro, diceerita diatas katanya ada kerajaan dimana ya….
kalau ada yang punya cerita tentang pengging lebih lengkap dan komplit boleh dong gue di kirimi……
Assalamu’alaikum Dhulur,
Nuwun Sewu, amiit.
ada versi lain yang menyatakan bahwa beliau tidak meninggal dunia saat terjadi perdebatan dengan Sunan Kudus, tapi perdebat tersebut diakhiri dengan kesepakatan antara Sunan Kudus & Ki Ageng Pengging, yaitu: Ki Ageng beserta pengikutnya harus meninggalkan pengging & tidak menyebarkan ajaran Hakekat “Manunggaling Kawula-Gusti” kepada masyarakat, sedangkan Sunan Kudus kembali ke Kerajaan Demak. InsyaALLAH bagi dhulur yang ingin tau dimana makam asli Ki Ageng Pengging & para Pengikutnya (Santri), monggo hub. saya (031)-71601713. Bila dibutuhkan saya bersedia untuk mengantarkan dhulur ke sana. Gratiiiii…..sss.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Matur nuwun
DIAN
mas,
cuma mo meluruskan saja…
Foto itu pemandian pengging bukan dekat makam ato desa tempat eyang Ageng dimakamkan…. cari sendiri klo sempeyan orang pengging?
klo sampeyan memahami memahami ajaran yang disampekan oleh Eyang Ageng Pengging yang di turunkan oleh Kanjeng Syek St jenar… sampeyan gak doyan mangan lan gak isoh turu mas… apa2 g di wejangkan itu bukti nyata ajaran Rosulullah yang di implementasikan di tanah jawa yang oleh para Sunan diaggap tdk sepaham karena klo di cross ceck dengan syariat islam banyak yg tdk cocok, tapi klo di pahami betul dengan hati yg lapang, tenang bersih,hening ….. benar benar luar biasa Syek siti jenar dan murid2nya, buktinya sekarang orang2 pada rame2 cari guru dan mempelajari hal2 yg begituan….. salah satu referensi coba sampeyan cari di toko buku tetnag SYeh siti Jenar oleh Ahmad chodim dan sebelum baca wudhu dulu baca syahadat shalawat (org. islam) dan buka juga Al’ Qur’an + terjemahannya…. cross ceck benar ato tdk,…. pupuh dandang gulo pangkur dll yg di sadur oleh penyusun buku itu dan di link dengan ayat2 al Qur’an….. ….
Salam
aku juga org daerah pengging, skrg di jakarta
surya@solonet.co.id
……Ikut nimbrung aja hehehe…..seru juga cerita diatas ya..tapi baru karang tahunya…tuh..hehehe….salam kenal aja buat semua yang pembacanya and makasih sama yang punya blog.
wah tambahan wawasan nih..
>>vikys latest: Best Deal ASUS Eee PC 20G Pearl White
rrr
ya siapa saja boleh komentar kan loo semua tau siti jenar capa? ki ageng pengging capa? andai kalian cemua tau kalian akan bersih kayak nabi saw saat di belah dadanya tak mengeluarkan darah swalau hanya setetes pun ha haha………. kalian kan bisa isro’ mi’rot kaya’ beliau (nabi saw) sesuai kadar kalian cemua kalau jadi kawulo jangan kmelinti he he he ……….to semua dah ada sekenarionya klo kita kaji betul2 banyak orang islam yang ga’ ngerti jati dirinya dia islam karna lingkungan / warisan / pilihan pribadi ?…..dasar 13 tahun tauhid tetap dipakai yaaaaaaaaaaa sebetulnya kita dikaji al qur’an bukan kita ngaji al qur’an banyak orang fanatik islam tapi ga’ rahmatan lil alamin apa sih maunya?……jangan tuduh yahudi klo masih islam ” apa sih yahudi ……….. heeeeeeeeeee kembalikan pd ingsun masing2 apa sih masrani ………….?kembalikan ke ingsun masing2 klo kita kaji lagi kembali pada introspeksi diri jadi hamba yang menyatu pada tuhannya kita ini looo anjing kita inilooo sapi kita iniloo lebah kita iniloooo semut kan ada tu dlm al qur’an semoga kita dapat slalu dikaji al qur’an aminnnnn
senengnya temen-temen urun rembug misteri Pengging; aku bukan orang pengging, cuma rasanya kangeeen kalo tidak main ke Sana; usul nich, gimana kalo kita coba: bukan belajar sejarah, tapi belajar dari sejarah (versi akademik, mitos, legenda, tutur-tinular, wisik gaib, dsb.); sepertinya jauuuuuuh lebih nyeeesss dibanding benar-salah/baik-buruk/formal-nonformal-informal; hehehe … namanya juga cuma numpang crigis-gratis!